Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengatakan : "Kita juga menekankan lagi prinsip-prinsip penghormatan kita terhadap integritas wilayah, terhadap kedaulatan wilayah suatu negara, kemudian kita juga menekankan kembali pentingnya untuk kembali ke meja perundingan dan juga yang pasti kami menyampaikan kembali keinginan kembali Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut. Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau terima. Saya juga menyampaikan concern dari rekan-rekan kita yang ada di negara-negara teluk terhadap serangan yang mereka dapatkan di wilayah-wilayah mereka."
Selanjutnya menjawab pertanyaan wartawan, Menlu mengatakan : "Seperti yang disampaikan bahwa jika kedua belah pihak berkeinginan, Bapak Presiden bersedia menjadi mediator. Misalnya ada pandangan-pandangan seperti itu, ya kita kembalikan kepada mereka."
Ada beberapa catatan dan komentar saya atas pernyataan Menlu Indonesia ini, yaitu :
1. Kita menekankan pada prinsip-prinsip penghormatan kita terhadap integritas wilayah, terhadap kedaulatan wilayah suatu negara.
Pernyataan Menlu ini seolah-olah Iran berada pada posisi yang salah. Dalam hal ini nampaknya Sugiono nampaknya menafikkan fakta bahwa Iran sebagaimana pernah disampaikan oleh Imam Ali Khamenei (pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran) bahwa bahwa jika Amerika memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional.
Dan faktanya, Amerika dan Israel memulai serangan terlebih dahulu. Lalu pernahkah Amerika mengecam tindakan Amerika dan Israel ini ?
Jika kemudian mengatakan lalu mengapa Iran menyerang negara-negara selai yangn Amerika dan Israel, maka lagi-lagi Sugiono menafikkan fakta bahwa Iran melakukan itu bukanlah tanpa alasan. Iran bukanlah menyerang negara-negara yang dimaksudkan Sugiono, melainkan menyerang pangkalan-pangkalan militer dan tempat-tempat yang dijadikan tempat rapat militer petinggi-petinggi Amerika. Iran melakukan ini demi mengamankan dirinya dari serangan-serangan Amerika yang akan dilancarkan lewat pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara tersebut.
Pernahkah Indonesia melalui Presiden dan atau Menlunya menyeru kepada negara-negara teluk tersebut agar jangan sampai mau terlibat dalam perang dengan menjadikan wilayahnya sebagai pangkalan militer Amerika dan tempat rapat para petinggi militer Amerika demi menghindari perang lebih besar ?
Dan pernahkaH Indonesia melalui Presiden dan atau Menlunya menyeru kepada Amerika dan Israel agar tidak melakukan serangan kepada Iran ?
Di sinilah nampaknya Presiden dan atau Menlu Indonesia nampak ketidaknetralannya dalam bersikap sehingga tidak layak untuk dipercaya sebagai mediator.
Sedikitpun tidak ada kecaman Indonesia atas serangan Amerika dan Israel yang menunjukkan pelanggaran terhadap prinsip-prinrip integritas dan kedaulatan negara.
2. Kita juga menekankan kembali pentingnya untuk kembali ke meja perundingan
Salah satu yang dinafikkan oleh pemerintah Indonesia saat ini adalah bahwa bukannya Iran tidak mau melakukan perundingan, melainkan Trump selaku Presiden Amerika yang tidak ingin membuka dialog dan memaksakan draft perjanjian yang telah dibuatnya untuk disetujui dan ditandatangani.
Sebagaimana kita ketahui, pada 20 Februari 2026, Trump memberikan ancaman atau ultinatum kepada Iran bahwa jika Iran tidak mau menyetujui dan menandatangani draft perjanjian yang telah dibuatnya dalam waktu 10 hari, maka Amerika akan menyerang Iran.
Demi supaya Iran tunduk kepada Amerika, Amerika mengerahkan 2 kapal induknya ke perairan dekan wilayah Iran.
Alih-alih mewujudkan ancamannya ketika batas waktu ancamannya atau 1 hari setelahnya, Israel malah menyerang Iran pada 28 Februari 2026 yang artinya 1 hari sebelum batas waktu ancaman Amerika berakhir.
Tidak berhenti pada serangan pada 28 Februari 2026, Israel terus melancarkan serangannya pada 1 Maret 2026 yang mengakibatkan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dan beberapa pejabat tinggi Iran lainnya termasuk mantan presiden Iran, Ahmadinejad.
Betapa naifnya pemerintah Indonesia jika Iran didesak untuk mau berunding dengan Amerika dan Israel apalagi jika Amerika tetap bersikukuh menginginkan Iran tunduk pada draft perjanjian yang telah dibuat Amerika.
Pertanyaan saya sederhana saja, mengapa Indonesia baru mendesak Iran untuk berunding pada 4 Maret 2026, 3 hari setelah Amerika dan Israel menyerang Iran yang mengakibatkan syahidnya Imam Ali Khamenei ? Apakah Indonesia akan mendesak Iran untuk berunding apabila Amerika dan Israel bisa dikatakan berhasil menguasai peperangan dan memenangkan peperangan ?
Mengapa Indonesia baru mendesak Iran untuk berunding setelah Iran melakukan serangan balasan yang lebih dahsyat yang memporakporandakan Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara-negara Arab yang digunakan oleh Amerika untuk menyerang Iran ?
3. Kami menyampaikan kembali keinginan kembali Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut.
Siapa itu Indonesia ? Mengapa dirinya merasa layak untuk menjadi mediator ? Tidak adakah lembaga yang lebih berwenang dan lebih didengar untuk menjadi mediator antara Amerika dan Israel dengan Iran ?
Di sini lagi-lagi pemerintah Indonesia menafikkan fakta bahwa sekjen PBB telah memperingatkan tentang risiko meluasnya perang jika terjadi yang secara khusus memperingatkan Amerika dan Israel agar jangan memulai melakukan agresi ke Iran. Dengan kata lain, PBB aja nggak di dengar oleh Amerika dan Israel, apalagi Indonesia.
Apakah pemerintah Indonesia sedemikian narsistiknya sehingga merasa dirinya akan bahkan pasti didengar oleh Amerika, Israel dan Iran ?
Jika Indonesia merasa pendapatnya layak didengar, lalu apakah Indonesia tidak mengindahkan pendapat Iran melalui duta besarnya di Indonesia yang menyatakan bahwa pintu dialog / negosiasi dengan Amerika dan Iran sudah tertutup dan serangan balasan Iran ke Israel dan Amerika adalah hak Iran.
Ada beberapa catatan mengapa Indonesia perlu dipertanyakan kelayakannya untuk menjadi mediator, yaitu :
- Bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Keamanan Gaza buatan Trump.
- Tidak ada ucapan turut berdukacitanya atas syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, baik secara langsung maupun tidak langsung.
- Tidak ada pernyataan Indonesia yang mendesak Amerika dan Israel agar jangan melakukan agresi ke Iran.
Sikap dan kebijakan Indonesia belakangan ini nampak menunjukkan ketidaknetralan atau kekurangnetralan Indonesia.
Dengan semua sikap dan kebijakan Indonesia terkait hal ini, layakkah Indonesia menjadi mediator ?
Jangan-jangan, Indonesia hanyalah menjadi alat bagi Amerika dan Israel untuk melobi Iran agar menghentikan serangan di mana Amerika dan Iran sedang dalam posisi kalah ? Upaya Amerika dan Israel agar Iran mau menghentikan serangannya ini juga yang nampaknya coba mereka lakukan melalui negara lain.
Serangan Amerika dan Israel ke Iran kali ini berbeda dengan yang telah mereka lakukan pada tahun 2025 yang sifatnya sangat mendadak. Dan serangan Iran ke Israel dan pangkalan militer Amerika di Qatar yang dijadikan Amerika untuk menyerang Iran juga sebatas untuk membalas dan menghentikan perang.
Kali ini Amerika memberikan ancaman dan batas waktunya. Demikian juga Iran telah memberikan jawaban dengan mengatakan bahwa jika Amerika dan Israel menyerang terlebih dahulu maka Iran akan membalasnya dengan lebih dahsyat dan menjadi perang kawasan regional.
Berbeda dengan Amerika yang memberikan ancaman supaya Iran tunduk dan menandatangani draft perjanjian yang telah dibuatnya, Iran memberikan ancaman supaya benar-benar tidak terjadi perang, supaya Amerika dan Israel benar-benar tidak menyerang Iran.
KESIMPULAN :
Sebagai Menteri Luar Negeri, Sugiono nampaknya kurang bahkan tidak memahami akar masalah dan geopolitik. Atau jangan-jangan, memang tidak peduli dengan akar masalah.
Desakannya ke Iran untuk membawa ke meja perundingan hanya agar terlihat hebat, atau bisa jadi memang atas permintaan Amerika dan Israel sendiri yang bisa dikatakan sedang terdesak akibat serangan balasan Iran.
Jika memang ingin menjadi mediator yang tulus, mulailah dengan mengucapkan ucapan turut belasungkawa secara resmi atas syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dan beberapa pejabat tinggi Iran lainnya serta mantan presiden Iran, Ahmadinejad. Mungkin ucapan ini terlambat, tapi masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
Salam Cerdas Bernalar- Beragama, dan Berpolitik,
Max Hendrian Sahuleka



Tidak ada komentar:
Posting Komentar