KUMPULAN ARTIKEL :

Sabtu, 31 Januari 2026

INILAH BANGSA YANG BERIMAN, INSYA ALLAH KEMENANGAN SENANTIASA BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Allah SWT berfirman : "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" [ Q.S. Al-‘Ankabut Ayat 2 ]

Dalam ayat lain, Allah SWT berfitman : "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." [ Q.S. Al-Baqarah ayat 124 ]

Mengacu pada 2 ayat di atas, maka belumlah layak seseorang disebut sebagai beriman jika belum pernah mendapat cobaan dan ujian sebagaimana yang pernah terjadi baik pada zaman Nabi maupun pada zaman-zaman sebelumnya.

Pada zaman Nabi, Nabi bersama pengikutnya sering diancam bahkan diblokade / diembargo dan diserang sehingga tidak sedikit yang terbunuh oleh orang-orang kafir . Selain itu, Nabi sendiri difitnah agar tidak ada lagi yang akan mau mengikutinya.

Oleh karena itu, sebuah bangsa belum dapat disebut sebagai bangsa yang beriman jika belum pernah mengalami cobaan dan ujian sebagaimana yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad atau nabi-nabi sebelumnya.

Adakah bangsa yang seperti ini ???

Jawabannya ADA.

Inilah IRAN. Iran diembargo oleh Setan Besar Amerika sejak Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 hingga sekarang. Bahkan kini Amerika berusaha terus berusaha mengembargo Iran dengan cara memberikan sanksi berupa pengenaan pajak tinggi kepada negara-negara yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Iran.

Tidak cukup dengan mengembargo dan berusaha mengucilkan Iran, banyak ulama, ilmuwan terutama ilmuwan nuklir, tokoh militer, tokoh politik, dan lain sebagainya yang dibunuh oleh Amerika dan Israel. Dan Amerika dan Israel berusaha hingga sekarang untuk membunuh tokoh paling penting dan paling vital di Iran yaitu Sayyid Ali Khamenei. Dan selain upaya membunuhnya, tidak sedikit fitnahan yang juga dilontarkan oleh Setan Besar Amerika dan Israel, seperti diktator dan lain sejenisnya bahkan lebih parah lagi.

Masih tidak cukup dengan membunuh banyak tokoh penting Iran, Setan Besar Amerika berusaha mendalangi berbagai kerusuhan untuk meruntuhkan pemerintahan Iran dengan berbagai cara.

Alih-alih melemah, Iran semakin kuat.

Apa yang menjadikan Iran sedemikian tangguhnya menghadapi semua cobaan atau tragedi ini ?

PERTAMA, kekuatan utamanya adalah Allah, atau menjadikan Allah sebagai pusat kekuatan dan orientasinya sebagaimana yang digambarkan pada bendera negaranya yang menempatkan lafaz Allah di tengahnya dan lafaz "Allahu Akbar" yang berada di atas dan di bawah lafaz Allah seperti ingin menunjukkan kerendahan hati dan mengagungkan Allah bahwa Dia Yang Maha Besar.

KEDUA, kekuatan utama Iran yang tidak kalah pentingnya adalah menjadi peristiwa Karbala sebagai teladan yang terus digali hikmahnya dan diperingati setiap 10 malam Muharam. Seruan Imam Husein (cucu tercinta Nabi) "Pantang Hina" nampaknya telah tertanam kuat dalam jiwa bangsa Iran. Inilah yang membuat mereka menjadi lebih baik mati daripada tunduk kepada kezaliman. Dan setiap ajakan untuk membela negara diartikan sebagai ajakan atas seruan Imam Husein "Apakah ada lagi yang akan menolongku" di mana kesyahidan adalah sesuatu yang memang dirindukan agar bisa bertemu dengan Nabi dan ahlul baitnya yang suci dan disucikan sesuci-sucinya.

KETIGA, ketaatan kepada ulil amri yang dalam hal ini adalah ketaatan kepada Rahbar, Sayyid Ali Khamenei, sebagai ulama tertinggi. Ini adalah sebagai pelaksanaan dari perintah Allah SWT : "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." [ Q.S. An-Nisa ayat 59 ]

Ketaatan kepada Sayyid Ali Khamenei bukan semata-mata ketaan kepada ulil amri, melainkan juga wujud dari kecintaan kepada Nabi karena mencintai kepada Nabi berarti mencinta keturunannya terutama yang adil karena adil itu dekat dengan taqwa sebagaimana firmannya. Dan mencintainya berarti memenuhi permintaan Nabi yang artinya merupakan wujud keimanan kepada Allah dan Nabi, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.” [ Q.S. Asy-Syura ayat 23 ]

Dan sebagaimana tercatat, Sayyid Ali Khamenei adalah keturunan Nabi Muhammad.

KEEMPAT, melaksanakan ibadah puasa dengan sebear-benarnya dan sebaik-baiknya. Seandainya ibadah puasa dilaksanakan dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya, maka segala bentuk embargo yang dilakukan oleh pihak-pihak zalim tidaklah akan mempan dan mampu melemahkan. Ketika ini mampu dilakukan, barulah kita dapat berkata kepada musuh-musuh Allah dan musuh-musuh islam dengan mengatakan : "Jika kalian, hai Amerika, mengira boikot dan embargo kalian akan menggentarkan dan membuat kami takut. Ketahuilah, bahwa Kamiputra-putra Ramadhan."

Namun sayangnya, mengenai ibadah puasa ini nampaknya belum mampu dilaksanakan dengan sangat baik oleh bangsa-bangsa lain di negara-negara Islam sehingga belum bisa menjadi kekuatan untuk melawan embargo dari pihak-pihak yang berusaha melemahkan kita.

Apa buktinya ?

Secara ekonomi, puasa adalah menekan permintaan. Dan akibatnya, harga seharusnya turun karena permintaan yang turun ini.

Namun yang terjadi malah sebaliknya, ketika bulan Ramadhan, harga-harga malah naik, Mengapa kok bisa seperti itu ? Itu karena permintaan justru malah meningkat pada bulan puasa. Di sinilah kita bisa mengatakan bahwa ibadah puasa belum mampu menjadi kekuatan ekonomi dengan menekan inflasi.

Puasa yang dilakukan baru sebatas seremonial, yang didapatkan baru lapar dan haus, sebagaimana Nabi bersabda : “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” [ HR Ath-Thabarani ]

KELIMA, menegakkan kalimatun sawa. Allah SWT berfirman : "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." [ Q.S. Ali Imran ayat 64 ]

Salah satu sebab mengapa berbagai upaya untuk meruntuhkan pemerintahan Iran dan wilayatul fakih dengan memecah belah bangsa Iran adalah karena bangsa Iran memiliki dan menegakkan kalimatun sawa yaitu meyakini bahwa Amerika dan Israel sebagai setan besar. Keyakinannya ini senantiasa didengung-dengungkan minimal setahun sekali pada Hari Al-Quds (Hari Jumat Terakhir pada bulan Ramadhan) yang ditetapkan oleh Imam Khomeini dengan mengumandangkan yel-yel "Mampus Amerika, Mampus Israel" dalam sebuah aksi turun ke jalan.

Ketika musuh-musuh berusaha membangun kerusuhan dengan atas nama demokrasi, bangsa Iran menunjukkan dengan aksi demonstrasi dengan jumlah jauh lebih besar sebagai wujud menegakkan kalimatun sawa. Dan ini sekaligus ingin menunjukkan bahwa mereka-mereka yang melakukan kerusuhan dengan atas nama demokrasi ini sesungguhnya sangat tidak demokratis.

KEENAM, memiliki pemimpin dan banyak tokoh yang layak diteladani baik secara intelektual, emosional / akhlak, maupun spiritual.

Saya ingat sekali ketika bekerja di Islamic College Advanced Studies (ICAS) dan diminta oleh bagian keuangannya yang baru untuk ikut menemaninya atau minta tolong dicarikan mobil untuk dirinya. Dirinya hanya mensyaratkan satu hal bahwa mobilnya jangan lebih mahal bahkan harus lebih murah dibandingkan rektornya. Demikian juga rektornya, yang menggunakan mobil pribadi yang relatif tergolong standar atau rata-rata.

Dengan akhlak pemimpin yang sederhana, bangsa Iran jarang bahkan tidak ada yang menampakkan diri berfoya-foya dan bermegah-megahan.

Seandainya saja pemimpinnya, terutama ulama tertingginya, menampilkan gaya hidup bermewah-mewahan apalagi jika melakukan korupsi, niscaya pemerintahan Iran akan segera runtuh sebagaimana banyak negara yang runtuh diturunkan oleh rakyatnya karena melakukan tindak korupsi.

Tidak pernah adanya demo anti pemerintah dan wilayatul fakih karena pemimpin / presiden dan ulama tertingginya melakukan tindak korupsi, menunjukkan bahwa mereka benar-benar bersih dan jauh dari korupsi.

KETUJUH, wilayatul fakih. Iran menjadikan wilayatul fakih sebagai sistem pemerintahannya di mana sistem ini tidak ada diterapkan di negara-negara lain. Iran menjadikan ulama tertinggi atau pemimpin spiritual tertinggi dalam hirarki tertinggi pemerintahan yang berhak memecat seorang presiden jika melanggar konstitusi dan undang-undang serta menyatakan perang.

Konsep dan sistem wilayatul fakih ini nampaknya menjadi konsep negara ideal yang dicetuskan oleh Plato maupun Al-Farabi. Plato dan Al-Farabi mengatakan bahwa negara ideal ini harus dipimpin oleh manusia kepala (filsuf dan atau filsuf).

Konsep negara yang dicetuskan oleh Plato dan Al-Farabi yang tercermin pada wilayatul fakih ini merupakan manifestasi dari firman Allah SWT yang berbunyi : "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" [ Q.S. Az-Zumar ayat 9 ]

Dan menariknya, Iran berhasil memadukan dengan baik antara teokrasi (yang dari atas) dan demokrasi (yang dari bawah) di mana presidennya dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu.


KESIMPULAN :

Itulah 7 hal yang menjadi dasar dan kekuatan Iran sehingga bukan hanya berhasil mengatasi ancaman dan tantangan, melainkan juga berhasil menunjukkan prestasinya di semua bidang.

Dengan bermodalkan ketujuh hal di atas, Iran nampaknya berhasil mewujudkan firman Allah : "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." [ Q.S. Ali Imran ayat 110 ]

Iran memang belum menjadi negara nomor satu dengan tingkat IQ rata-rata tertinggi di dunia. Namun mengingat kondisi Iran yang masih dan terus mengalami embargo dan sanksi dari Setan Besar Amerika baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga internasional. 

Menurut data International IQ Test (IIT) pada tahun 2025, Iran berada di urutan ke-4 sebagai negara dengan tingkat kecerdasan rata-rata penduduknya di bawah Cina, Korea Selatan dan Jepang. Namun berada jauh di atas musuh utamanya yaitu Amerika Serikat yang berada di urutan 30, dan Israel yang berada di urutan 45.

Terkait kecerdasan ini, Iran menjadi bangsa yang senantiasa mengembangkan filsafat yang merupakan induk ilmu pengetahuan dan peradaban, baik dalam lembaga pendidikan formal maupun informal.

Ironisnya, banyak negara Islam dan atau negara mayoritas muslim lainnya bukan hanya tidak mengembangkan filsafat, melainkan malah menganggap filsafat itu sesat.

Tinggal pertanyaannya dari semua hal di atas, lalu bagaimana dengan kita, baik sebagai sebuah bangsa maupun sebagai individu ???


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan  Berpolitik,


Max Hendrian Sahuleka

  • SHARE