Ketika saya menyampaikan alasan saya mendukung Spanyol karena sikap tegas pemerintah Spanyol yang belakangan ini sangat tegas dan gencar membela Palestina serta aksi Lamine Yamal yang mengibarkan bendera Palestina saat pawai keliling merayakan kemenangan Barcelona sebagai juara Liga Spanyol 2025-2026, ditambah dengan Argentina yang membela Israel dan supporter Argentina yang juga banyak yang membela Israel, banyak yang mengomentari saya agar jangan mencampuradukkan antara dunia olahraga dengan dunia politik dengan berbagai alasan.
Salah satu argumentasi mereka yang ingin saya soroti dalam postingan ini adalah komentar yang disampaikan seseorang yang ditujukan kepada saya sebagaimana tampak pada screenshot gambar di bawah ini.
Sepak bola dan politik memang tidak terpisahkan sejak awal mula olahraga ini. Di Indonesia, sepak bola lahir sebagai alat perjuangan kemerdekaan dan persatuan nasional untuk melawan kolonialisme.
Tokoh seperti Soeratin dan M.H. Thamrin mendirikan PSSI pada 1930 sebagai bentuk perlawanan politik kaum bumiputera terhadap diskriminasi rasial pemerintah Belanda.
Secara global, sepak bola sejak lama berfungsi sebagai panggung untuk membangun identitas bangsa, alat propaganda penguasa, hingga media diplomasi dan protes sosial antarnegara.
Selain itu, saya juga ingin mengomentari komentar teman saya sebagaimana tampak dalam gambar atau screenshot di bawah ini.
Komentar saya atau seseorang tentunya tidak akan dapat merusak sama sekali kepada dunia olahraga karena apapun pendapat saya tidak akan dapat sama sekali mempengaruhi keputusan wasit atau pembuat kebijakan.
Dan seringkali, alasan utama seseorang mendukung sebuah tim memang lebih karena alasan-alasan non teknis, seperti alasan nasionalisme atau mendukung sebuah tim karena tim tersebut mewakili negaranya, alasan karena ketampanan / kecantikan para pemainnya, alasan karena dalam tim negara tersebut ada pemain favoritnya di klub sepakbola favoritnya, dan lain sebagainya, termasuk alasan politik dan agama.
Ironisnya, teman saya tersebut sama sekali tidak mengomentari apalagi mengecam Amerika ketika membuat kebijakan tidak adil di mana Tim Iran tidak diperkanankan tetap tinggal penuh di suatu tempat dekat stadionnya selama babak pertandingan yang dijalaninya. Padahal keberadaan tempat tetap untuk tinggal para pemain selama babak pertandingan yang dijalaninya demi istirahat dan menjaga stamina serta hal lainnya untuk pertandingan berikutnya.
Demikian juga tidak pernah terlihat dan terdengar komentarnya ketika FIFA dan UEFA melarang Rusia ikut dalam Piala Dunia dan Piala Eropa. Dan orang-orang seperti ini juga tidak tampak terlihat dan terdengar ketika banyak negara dilarang berlaga baik dalam Piala Dunia, Piala Eropa, maupun Olimpiade.
Tapi lucunya, ketika Israel dilarang berlaga di Indonesia, ia berkomentar lantang membela Israel dan mengecam aksi pelarangan Tim Israel untuk berlaga ini. Bahkan mencari berbagai pembenaran untuk mendukung Tim Israel untuk berlaga ini.
Jadi, jika memang benar-benar mengatakan jangan campurkan dunia olahraga, khususnya sepakbola dalam hal ini, maka sampaikan itu pada FIFA, UEFA, OLIMPIADE dan pihak penyelenggara ajang olahraga lainnya ketika melarang sebuah negara berlaga karena alasan politis, termasuk melayang perilaku Amerika Serikat yang tidak adil terhadap tim Iran yang tengah berlaga di Piala Dunia 2026 ini, bukan sekedar itu disampaikan ketika Israel dilarang masuk dalam ajang olahraga.
Di sinilah nampaknya pendukung Israel inkonsisten sebagaimana Israel yang memang sering inkonsisten.
Bicara tentang jangan mencampuradukkan sepakbola dengan politik, memangnya yakin tuh bahwa keputusan wasit saat pertandingan dalam Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Mesir itu bersifat adil dan tidak berat sebelah mendukung Argentina ?
Bagaimana menurut Anda ???
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Max Hendrian Sahuleka


