Ketika Inggris yang mampu dikalahkan Argentina berhasil menjadi juara ke-3 dengan mengalahkan Perancis yang dikalahkan Spanyol, banyak yang memprediksi bahwa dalam laga final Piala Dunia 2026, Argentina akan mampu mengalahkan Spanyol.
Secara matematis, hal ini sangat mungkin jika mengacu kepada dari data statistik pertandingan antara Inggris vs Perancis, Argentina vs Inggris, dan Spanyol vs Perancis.
Mari kita lihat statistik pertandingan Spanyol vs Perancis pada semi final seperti yang dapat dilihah di bawah ini :
Meskipun statistik menunjukkan Spanyol unggul dalam banyak kriteria, namun Spanyol kalah jika dilihat dari total shots dan jumlah shoots on target. Perancis lebih banyak melayangkan bola ke gawang Spanyol, yang artinya peluang tendangan Perancis mencetak gol lebih banyak dibandingkan Spanyol. Peluang ini semakin tampak jika dilihat dari jumlah tendangan sudut (corner) yang diperoleh Perancis dan statistik pass accuracy-nya. Dan strategi pertahanan Perancis dapat dinilai lebih baik karena berhasil menjebak Spanyol masuk perangkap offside sebanyak 5 kali di mana ini artinya lebih banyak dari perangkap offiside yang terkena Perancis yang hanya 4 kali.
Jadi, meskipun Spanyol mampu mengalahakan Perancis dengan skor 2 - 0, kita masih bisa melihat pertandingan Spanyol vs Perancis ini sebagai seimbang jika melihat statistik dari penguasaan bola yang beda tipis.
Namun ini sangat berbeda dengan statistik Argentina vs Inggris pada semi final seperti yang dapat dilihat di bawah ini :
Meskipun Inggris berhasil mencetak gol terlebih dahulu ke gawang Argentina, namun secara statisik, Argentina unggul terhadap Inggris di semua kriteria penilaian kecuali dalam hal pelanggaran. Itulah mengapa kita merasa sangat mungkin jika Argentina akhirnya berhasil membalikkan keadaan menjadi mengalahkan Inggris dengan skor 2 - 1.
Yang mencolok dari statistik di adalah penguasaan bola (ball posession) Argentina yang sangat dominan yang mencapai 64% dan jumlah tendangan bola ke gawang (shoots on target) yang jauh lebih besar dibandingkan Inggris yaitu mencapai 14 tembakan dengan 6 tembakan yang benar-benar dinilai dapat menghasilkan gol.
Jadi, sekali lagi, ketika Inggris ternyata berhasil mengalahkan Perancis dalam perebutan Juara ke-3 dengan skor yang cukup telah yaitu 6 - 4, maka jadi banyak yang memprediksikan bahwa Argentina nantinya akan mampu mengalahkan Spanyol dalam babak final.
Namun ternyata semua perhitungan matematis ini nampaknya sangat keliru. Argentina yang diperhitungkan secara matematis dapat menguasai pertandingan dan menekan Spanyol dengan menciptakan banyak peluang mencetak gol sehingga dapat menjadi juara, justru yang terjadi malah sebaliknya. Argentina menjadi sangat tidak berdaya menghadapi Spanyol, bahkan menjadi seperti tim yang tidak layak masuk dalam final.
Bayangkan saja, Argentina sama sekali tidak mampu membuat peluang untuk cetak gol sebagaimana dapat dlihat dalam statistik bahwa shoots on target Argentina adalah 0. Sedangkan penguasaan bola atau ball posession Argentina juga cuma 32%. Jauh di bawah rata-rata dan jauh di bawah prediksi.
Satu-satunya yang lebih unggul Argentina adalah dalam hal pelanggaran dengan total pelanggaran yaitu 24 kali dengan perolehan 5 kartu kuning serta 1 kartu merah. Kartu merah pun bertambah menjadi 2 jika dimasukkan pemberian kartu merah kepada Leandro Paredes yang kasar kepada pemain Spanyol, yaitu Gavi dan Eric Garcia, sesaat setelah peluit panjang mengakhiri pertandingan dibunyikan yang mengakibatkan kericuhan pasca pertandingan.
Pernyataan "bola itu benar-benar bulat" nampaknya benar-benar menghancurkan skenario dan keberpihakan untuk memenangkan Argentina ketika dianulirnya 2 gol Spanyol ke gawang Argentina.
Lebih dari itu, apa yang terjadi di babak final ini nampak telah mengubah pandangan masyarakat secara umum dan singkat kepada Argentina.
Ketika Argentina mampu membalikkan keadaan dari kondisi kalah menjadi menjadi ketika melawan Mesir dan Inggris, banyak yang langsung beropini bahwa itu semua karena mental juara yang dimiliki Argentina.
Namun apa yang terjadi selama pertandingan final Spanyol vs Argentina, opini "Argentina bermental juara" nampak langsung berubah. Argentina langsung dicap sebagai "tim bermental pecundang".
Ini terjadi bukan hanya dari apa yang terjadi sepanjang pertandingan yang dilihat dari jumlah pelanggaran yang dilakukan Argentina sehingga memperoleh 5 kartu kuning dan 1 kartu merah, melainkan juga sikap tidak sportif pemain Argentina terutama yang disorot adalah keika Messi memprotes dan mengusulkan kepada wasit untuk memberikan kartu merah kepada Cucurella yang dinilai melakukan gerakan pelanggaran dengan menutup mulut.
Dari fenomena ini semua, kita dapat mengambil pelajaran besar, inilah hidup. Tidak selamanya dapat diprediksi secara matematis hasilnya. Yang terpenting adalah terus berjuang tanpa lelah untuk meraih hasil yang diinginkan meskipun adanya kemungkinan besar skenario dan keberpihakan yang ingin menggagalkan kemenangan / kesuksesan kita.
Dan jika kesuksesan / kemenangan ini gagal diperoleh, maka tetaplah tersenyum dan tegar menghadapi kegagalan, Setidaknya meskipun kalah, kita menjadi tidak akan dijuluki bermental pecundang. Karena hanya yang memiliki mental juara yang akan mampu tegar menghadapi kekalahan untuk kemudian bangkit kembali dan menjadi juara pada event pertandingan berikutnya.
Bagaimana menurut Anda ???
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Olahraga,
Max Hendrian Sahuleka


