Sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang menumbangkan rezim Pahlevi, Iran muncul sebagai kekuatan baru melawan Amerika. Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini yang saat itu berusia 77 tahun, sebuah usia yang tergolong senja. Revolusi Islam Iran yang berhasil menumbangkan rezim Pahlevi ini sungguh tidak pernah diduga oleh Amerika. Pasalnya, Iran pada rezim Pahlevi ini terbilang memiliki kekuatan militer yang sangat kuat dan terkuat di Timur Tengah.
Siapa sangka bahwa rezim Pahlevi yang memiliki kekuatan militer yang sangat kuat ini berhasil ditumbangkan oleh seorang ulama berusia senja.
Bukan hanya itu, Imam Khomeini bukan hanya telah melengserkan Pahlevi dari tahta, melainkan benar-benar melakukan revolusi secara total dengan mengganti sistem pemerintahan yang ada.
Imam Khomeini mengembangkan sebuah sistem yang merupakan sintesa antara sistem teokrasi dengan sistem demokrasi. Sistem inilah yang kemudian dikenal dengan nama Wilayatul Fakih.
Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai sistem Wilayatul Fakih ini. Saya lebih akan membahas bahwa sejak saat itu, Iran menjadi sebuah kekuatan baru yang tidak terduga yang menjadi lawannya Amerika. Imam Khomeini dengan lantang menyebut Amerika sebagai setan besar.
Adakah negara yang benar-benar berani melawan Amerika dan pemimpinnya dengan lantang menyebut Amerika sebagai setan besar ?
Bukan hanya menyebut Amerika sebagai setan besar, melainkan juga mengusir kedutaan besar dan pangkalan militer Amerika dari wilayah negara Iran.
Adakah negara yang benar-benar berani melawan Amerika dengan mengusir kedutaan besar dan pangkalan militer Amerika dari wilayah negaranya ?
Iran adalah satu-satunya negara yang tidak ada kedutaan besar dan pangkalan militer Amerika di wilayah negaranya, setidak-tidaknya di Timur Tengah.
Adakah megara yang benar-benar berani melawan Amerika dengan menasionalisasi perusahaan Amerika terutama perusahaan tambang dan energi di wilayah negaranya ?
Dan sekali lagi, tidak berhenti di situ, Imam Khomeini membuat kebijakan yang juga revolusioner yang dapat menjadi gerakan perlawanan terhadap Israel yaitu dengan menetapkan hari Jumat Terakhir Ramadhan sebagai Hari Al-Quds yang dapat dibilang merupakan Hari Al-Quds Internasional karena Imam Khomeini tidak membatasi hari ini diperingati di Iran nantinya.
Hari Al-Quds, yang diperingati
setiap Jumat terakhir Ramadan, menjadi antitesa (perlawanan balik)
simbolis terhadap Hari Nakba (15 Mei), yang mengenang bencana pengusiran massal
warga Palestina pada 1948. Jika Nakba meratapi kehancuran, Hari Al-Quds
fokus pada perlawanan, solidaritas internasional, dan perjuangan membebaskan
Yerusalem.
Imam Khomeini juga memperkenalkan yel-yel "Mampus Amerika, Mampus Inggris, Mampus Israel" yang terutama dikumandangkan pada Hari Al-Quds ini yang menunjukkan posisi dirinya dan juga Iran sebagai kekuatan perlawanan.
Yel-yel "Mampus Amerika, Mampus Inggris, Mampus Israel" dan sebutan "Amerika Setan Besar dan Israel Setan Kecil" ini juga untuk menyadarkan rakyat Iran akan musuh sebenarnya, musuh yang nyata.
Yel-yel "Mampus Amerika, Mampus Inggris, Mampus Israel" dan sebutan "Amerika Setan Besar dan Israel Setan Kecil" ini juga sering dikumandangkan di luar Hari Al-Quds.
Bukan hanya berani menentang Amerika, Iran juga berani menentang Israel. Iran senantiasa membantu rakyat yang ditindas, terutama pejuang Palestina, dalam melawan Israel. Demikian juga, Iran senantiasa membantu rakyat dan pejuang di Libanon, Suriah dan Yaman dalam melawan Israel dan antek-anteknya.
Inilah mengapa Iran menjadi sangat dibenci oleh Amerika dan juga Israel. Sejak Revolusi Islam Iran, Amerika berusaha mencari berbagai cara untuk meruntuhkan Iran.
Amerika melakukan embargo ekonomi yang dilakukan sejak 1980 hingga sekarang. Bahkan sekarang ini, Amerika di bawah pemerintahan Trump berusaha memperluas embargonya dengan melibatkan negara-negara lain, terutama negara-negara yang tergabung ke dalam Board of Peace (BoP) atau Dewanan Keamanan Gaza buatan trump, untuk turut serta melakukan embargo terhadap Iran di mana jika tidak mau ikut serta maka akan dikenakan sanksi tarif tinggi kepada negara-negara yang tidak mau melakukannya.
Tidak hanya melakukan embargo, Amerika mengompori negara-negara tetangga Iran untuk menyerang Iran. Irak di bawah rezim Saddam Husein menyerang Iran pada bulan September 1980 sehingga terjadi Perang Irak - Iran.
Setelah Irak yang menjadi bonekanya gagal menghancurkan Iran, Amerika berusaha mencari cara keji dan zalim lainnya. Amerika dan Israel dengan Mosadnya membunuh ulama, tokoh politik, tokoh milier, dan ilmuwan-ilmuwan Iran dengan harapan bahwa syahidnya mereka akan melemahkan Iran.
Bukan hanya itu, Amerika menjadi otak di belakang Arab Saudi yang kemudian menghasut Arab Saudi untuk membunuh tokoh-tokoh Iran tersebut saat menunaikan ibadah haji dengan membuat insiden-insiden seolah-olah itu hanyalah sebuah kejadian yang tidak disengaja.
Melihat kedua cara di atas tidaklah mampu melumpuhkan Iran, Amerika dan Israel melakukan cara terakhir, yaitu melakukan serangan langsung kepada Iran.
Serangan langsung Amerika dan Israel yang pertama kepada Iran terjadi pada Juni 2025. Amerika menyerang Iran melalui pangkalan militernya di Al-Udeid, Qatar.
Serangan Amerika dan Israel ini bisa dikatakan menelan kegagalan bahkan memperoleh kekalahan. Padahal bisa dibilang bahwa Amerika dan Israel ini juga sudah dibantu oleh Yordania yang berusaha membantu Israel dengan mencegat dan menjatuhkan rudal-rudal Iran yang tengah menuju Israel.
Amerika dan Israel tidak menyerah dan berhenti di situ. Pada 28 Februari 2026 kemarin, Israel kembali memulai agresi kepada Iran, sebuah serangan yang 1-2 hari dari batas waktu ancaman Amerika paling cepat untuk menyerang Iran. Sebagaimana kita ketahui, pada 20 Februari 2026, Amerika mengancam Iran di mana jika tidak menyetujui dan menandatangani perjanjian yang dibuat Amerika dalam waktu 10 - 15 hari maka Amerika akan menyerang Iran.
Dan serangan rudal Israel pada 1 Maert 2026 membuat pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei, syahid. Rudal-rudal Israel ini juga menewaskan beberapa tokoh penting Iran dan juga mantan Presiden Iran, Ahmadinejad.
Namun nampaknya, Amerika dan Israel serta antek-anteknya benar-benar salah menduga. Iran bukan hanya melemah dengan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, serangan Iran ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika bukan hanya terus berlanjut, melainkan jauh lebih dahsyat.
Hingga tulisan ini dibuat dan diposting, perang antara Amerika dan Israel dengan Iran masih terjadi. Tinggal pertanyaannya, apakah akan segera berakhir atau malah semakin membesar dengan melibatkan negara-negara lain dan semakin banyak ???
Jawabannya, entahlah. Yang pasti, Iran nampaknya menjadi garda terdepan dalam melawan Amerika dan Israel serta benteng terakhir Islam. Hanya orang-orang kafir dan munafik serta orang-orang yang tertipu oleh orang-orang kafir dan munafik yang menentang hal ini.
Tinggal pertanyaannya selanjutnya, apakah kita sebagai umat Islam, khususnya negara-negara Islam dan atau mayoritas Islam, lagi-lagi akan masuk ke dalam permainan, propaganda dan tipu daya Amerika untuk memecah belah Islam di mana bukan hanya tidak akan membantu Iran sebagai sesama muslim melainkan malah membantu Amerika dan Israel ???
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Max Hendrian Sahuleka


