Dan jika yang meninggal tersebut adalah pemimpin suatu negara atau tokoh suatu negara dan negara, ucapan tersebut lebih memiliki arti lebih jauh. Demikian juga bila tidak mengucapkannya.
Ucapan turut berduka cita dari Megawati Soekarnoputri ini dibuat secara tertulis yang disampaikan melalui Sekjen DPP PDI Perjuangan (Hasto Kristiyanto) dan Ketua DPP Bidang Luar Negeri (Ahmad Basarah) kepada Duta Besar Iran di Indonesia (Mohammad Boroujerdi). Surat ini disampaikan di Kedutaan Besar Iran, Jakarta, pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 15:20 WIB.
Surat ini menegaskan hubungan baik antara Megawati Soekarnoputri, selaku putri dari Soekarno, pendiri bangsa ini. Seperti kita ketahui, Iran sangat menghormati dan juga mengagumi Soekarno. Pendiri Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini, telah mengatakan bahwa dirinya juga terinspirasi oleh Soekarno dan pemikirannya. Sebuah pemikiran Soekarno yang justru banyak tidak dipahami dengan baik oleh banyak orang Indonesia, terutama oleh tokoh-tokoh politik Indonesia.
Selain Megawati Soekarnoputri, banyak tokoh Indonesia yang juga mengucapkan ucapan turut belasungkawa atas syahidnya Imam Ali Khamenei.
Ironisnya, Prabowo Subianto selaku presiden Indonesia dan Gibran Rakabumi Raka selaku wakil presiden Indonesia hingga postingan ini dibuat masih belum mengucapkan ucapan turut beelasungkawa atas syahidnya Imam Ali Khamenei.
Dan juga ucapan turut belasungkawa atas syahidnya Imam Ali Khamenei ini belum juga disampaikan oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang dikenal sebagai tokoh yang katanya menjunjung tinggi pluralisme dan toleransi.
Pertanyaannya, mengapa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia serta Menteri Agama sebagai tokoh yang seharusnya paling pertama dalam mengucapkan ucapan turut belasungkawa atas syahidnya Imam Ali Khamenei justru malah belum bahkan tidak mengucapkan ucapan belasungkawa ini ???
Apakah semua ini menunjukkan tanda mulai ketidaknetralan Indonesia dalam kebijakan politik luar negerinya ? Atau jangan-jangan tidak mengucapkan ucapan turut belasungkawa ini karena takut dinilai tidak netral ? Tapi takut kenapa dan sama siapa ? Atau jangan-jangan malah menunjukkan mulai hilangnya rasa kemanusiaan sehingga tidak ada lagi empati untuk mengucapkan ucapan turut belasungkawa ini ?
BAGAIMANA MENURUT ANDA ?
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Max Hendrian Sahuleka



Tidak ada komentar:
Posting Komentar