KUMPULAN ARTIKEL :

Rabu, 22 Juli 2026

MENTAL PEMENANG ATAU MENTAL PECUNDANG : MENYOAL ARGENTINA DALAM PIALA DUNIA 2026

MENTAL PEMENANG ATAU MENTAL PECUNDANG : MENYOAL ARGENTINA DALAM PIALA DUNIA 2026

Ketika Argentina berhasil membalikkan keadaan dari sempat kalah terlebih dahulu namun kemudian berbalik menjadi pemenang, misalnya saat melawan Mesir yang awalnya kalah 2 - 0 menjadi menang 3 - 2 dan saat melawan Inggris yang sempat tertinggal kalah 1 - 0 menjadi menang 2 - 1, para pendukung Argentina langsung membangun narasi bahwa Argentina memang benar-benar tim yang bermental juara.

MENTAL PEMENANG ATAU MENTAL PECUNDANG : MENYOAL ARGENTINA DALAM PIALA DUNIA 2026

Dan ketika dikritisi tentang kefairan wasit, terutama saat lawan Mesir di mana banyak keputusan wasit yang dinilai kontroversial, mereka mencari pembelaan / pembenaran dengan berbagai alasan, bahkan sampai menuduh bahwa yang tidak rela menerima kemenangan Argentina sebagai pecundang di mana dikatakan begitulah para pecundang yaitu tidak bisa menerima kekalahan.

Mereka benar-benar tidak mau menelusuri lebih lanjut tentang keputusan wasit yang dinilai kontroversial, dan berkata "menang ya menang", "tidak usah banyak bicara yang meragukan kemenangan".

MENTAL PEMENANG ATAU MENTAL PECUNDANG : MENYOAL ARGENTINA DALAM PIALA DUNIA 2026

Bahkan ketika ada yang mempertanyakan jalur Argentina yang melawan tim-tim bukan unggulan menuju final dan menganggapnya ada skenario, banyak pendukung Argentina bahwa jangan nyari-nyari alasan, memangnya apa hubungannya.

Dengan melawan tim-tim bukan unggulan, bukan hanya peluang menangnya sangat besar, melainkan secara matematis akan lebih menghemat tenaga dalam melawan bukan tim-tim unggulan. Ibaratnya, energi yang dikeluarkan tidak harus 100% sehingga energinya bisa lebih maksimal digunakan dalam laga final nanti.

MENTAL PEMENANG ATAU MENTAL PECUNDANG : MENYOAL ARGENTINA DALAM PIALA DUNIA 2026

Namun ironisnya, fakta menunjukkan sebaliknya. Alih-alih dapat mengeluarkan 100% energi dan kemampuannya, Argentina menjadi seperti tim yang tidak layak menjadi tim yang masuk final. Pasalnya, kecuali offside, tidak ada satupun yang diungguli Argentina, bahkan secara statisik hasilnya berbeda jauh. Bahkan mengenai offside pun, ada keputusan wasit yang perlu dipertanyakan yaitu keputusan offside yang mengakibatkan dianulirnya gol kedua Ferran Tores pada akhir menit ke-112.

Dan kita menjadi semakin mempertanyakan mental pemain Argentina selama laganya dalam Piala Dunia 2026 ini yang sama sekali tidak menunjukkan dirinya memiliki mental juara.

Kita mulai terlebih dahulu dengan aksi Lionnel Messi yang menyarankan wasit untuk memberikan kartu merah kepada Cucurella yang dianggap menghinanya dengan membuat gerakan seperti menutup mulut sebagaimana dapat dilihat dalam video di bawah ini :

Salah satu mental pecundang adalah takut kalah. Dan inilah yang mungkin terjadi pada diri Messi sehingga ketika Enzo Fernandez diganjar kartu merah, Messi takut kalah sehingga berusaha mencari hal yang dapat menghindari dirinya dari kekalahan yaitu meminta wasit memberikan kartu merah juga kepada Cucurella karena aksinya yang dinilai menutup mulut.

Kalah telaknya Argentina secara teknis menurut statistik, coba diatasi dengan non-teknis. Kebersinaran kiper menjadi andalan satu-satunya Argentina untuk menang jika terjadi drama adu pinalti.

Sikap Messi ini langsung dibandingkan dengan sikap Ronaldo yang tidak mempersoalkan aksi Kusanov yang menutup mulut saat berhadapan Ronaldo ketika Portugal melawan Uzbekistan.

Selain itu, kita juga bisa melihat aksi Leandro Paredes yang kasar kepada pemain Spanyol, yaitu Gavi dan Eric Garcia, sesaat setelah peluit panjang mengakhiri pertandingan dibunyikan yang mengakibatkan kericuhan pasca pertandingan. Akibat aksinya ini, Leandro Paredes diganjar kartu merah, kartu merah yang diperoleh ketika lagi telah berakhir. Marah karena tidak menerima kekalahan menunjukkan pelakunya memiliki mental pecundang.

Ironisnya, tuduhan mental pecundang seperti inilah yang dilontarkan kepada mereka yang mengkritisi kemenangan Argentina atas Mesir ketika adanya tuduhan keberpihakan wasit kepada Argentina.

Dan terakhir, kita dapat melihat mental pecundangnya Argentina ketika membelakangi Spanyol yang melakukan selebrasi menjadi juara dalam Piala Dunia 2026 ini.

Padahal jika melihat statistik, Argentina harusnya secara sportif benar-benar mengakui kehebatan Spanyol dan karenanya menghargai kemenangan Spanyol.

Lucunya, para pendukung Argentina mencari berbagai alasan mengapa Argentina kalah, sampai pada menuduh adanya konspirasi untuk memenangkan Spanyol.

Mereka sama sekali menafikkan dengan bukti-bukti yang menunjukkan sebaliknya di mana justru nampaknya ada skenario dan keberpihakan untuk memenangkan Argentina.

Jika mereka menuduh mental pecundang kepada mereka yang menuduh adanya kecurangan dan keberpihakan sehingga Argentina bisa menang kepada Mesir, kini mereka melakukan hal yang sama meskipun bukti-bukti itu tidak ada. Ini semakin menunjukkan kepecundangan mereka.

Kepecundangan para pendukung berat Argentina semakin nampak kepecundangan mereka, mulai dari alasan mengada-ngada yaitu mempersoalkan bendera Palestina yang dikibarkan oleh para pendukung Argentina, hingga aksi brutalnya yang mengakibatkan korban jiwa dari pendukung Spanyol.

Ini juga mungkin yang mengakibatkan kemarahan pecinta bola atas ketidaksportifan Argentina dan para pemain Argentina serta para pendukung Argentina inilah yang membuat para pecinta sepakbola banyak mengungkit kembali sepak terjang Argentina dalam sepak bola, baik dalam Piala Dunia 2026 ini, maupun dalam Piala Dunia sebelumnya dan kancah sepakbola lainnya sebagaimana yang dapat Anda lihat di media sosial, baik di YouTube, TikTok, Facebook, dan media sosial lainnya.

Tinggal pertanyaannya, mengapa pecinta sepakbola sampai sedemikiannya melakukan hal tersebut ???

Bagaimana menurut Anda ???


Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,


Max Hendrian Sahuleka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  • SHARE