KUMPULAN ARTIKEL :

Sabtu, 21 Maret 2026

SEMOGA SAJA SIKAP UMAT MENGHARGAI PERBEDAAN BISA SEPERTI SAAT MENETAPKAN DAN MERAYAKAN IDUL FITRI

Tiap tahun terjadi perbedaan dalam menetapkan 1 Ramadhan (kapan awal puasa Ramadhan) dan 1 Syawal (kapan akhir Ramadhan). Salah satu yang menyebabkan perbedaan ini adalah metode yang digunakan, di mana ada 2 metode dasar dalam menetapkannya, yaitu Ru'yat (Harus melihat Hilal secara langsung) dan Hisab (Cukup mengetahui Hilal dengan perhitungan). 

Di luar kedua metode di atas (Ru'yat dan Hisab), belakangan ada juga yang menggunakan metode tradisional / lokal yang disebut metode Joguru yang menentukan 1 Syawal melalui pasang surut air laut dengan memantau titik terendah air laut saat bulan baru (konjungsi). 

Metode manakah yang benar ? Meskipun kadang, terutama beberapa orang, seringkali memperdebatkan metode mana yang benar, namun mayoritas seperti nampak tidak mempedulikan metode mana yang benar, bahkan tetap menerima orang lain yang berbeda dalam hal ini.

Bahkan banyak pula yang seperti nyari enaknya, mengikuti 1 Ramadhan (awal puasa) yang paling belakangan dan mengikuti 1 Syawal (lebaran) yang paling dahulu. Dan ini seperti tidak ada yang mempedulikan hal ini, apalagi sampai mencap orang itu sebagai sesat atau kafir karenanya. Bahkan apakah seseorang itu berpuasa atau tidak di bulan Ramadhan, kita juga sepertinya tidak mempedulikan hal ini.

Bahkan di banyak keluarga, momen lebaran atau idul fitri dijadikan momen untuk berkumpul di antara keluarga meskipun anggota keluarga tersebut memiliki latar belakang agama yang berbeda. Lebih dari itu, bahkan di antara anggota keluarga yang sedang bermusuhan, mereka tetap berkumpul bersama dan harmonis saat berkumpul keluarga merayakan lebaran atau hari taya Idul Fitri ini. Dan momen ini dapat menjadi ajang yang baik untuk menjalin kembali silaturahim dan mengatasi permusuhan.

Sayangnya sikap ini, sikap menghargai perbedaan ini, nampaknya hanya terjadi pada lebaran atau hari raya Idul Fitri ini, belum tercermin dalam kehidupan bersosial dan beragama di tengah-tengah masyarakat secara keseluruhan. Kita masih saja mempersoalkan perbedaan yang ada, dan menafikkan persamaan atau titik temu yang ada. Bahkan lebih dari itu, yang terjadi malah sering mencap sesat atau kafir terhadap orang yang memiliki perbedaan.

Setelah lebaran, kita nampak kembali seperti asal, lebih melihat pada perbedaan daripada persamaan. Kita lupa akan perintah Allah untuk menegakkan kalimatun sawa, padahal bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran, seharusnya kita senantiasa menjunjung tinggi Al-Quran dan berkomitmen untuk mengamalkannya, termasuk dalam hal ini adalah menegakkan kalimatun sawa, mencari titik temu, lebih menekankan pada persamaan daripada perbedaan demi menghindari perpecahan dan konflik.

Di sinilah nampaknya kita perlu merenungkan sabda Nabi bahwa banyak di antara kita yang berpuasa namun tidak ada yang didapatnya kecuali lapar dan haus.

Jika ada yang mengatakan bahwa perbedaan ini tidaklah esensial, maka pendapatnya bisa dikatakan keliru. Semua mazhab menyatakan bahwa haram hukum berpuasa pada 1 Syawal. Ini artinya penentuan kapan itu 1 Syawal adalah sangat penting bahkan esensial.

Namun sekali lagi, masyarakat sepertinya tidak mempedulikan hal ini. Masyarakat sepertinya ingin mengatakan bahwa urusan dosa dalam hal ini adalah urusan individu dengan Allah. Bahkan banyak yang berkeyakinan bahwa mereka tidaklah berdosa karena sikapnya ini karena mereka hanyalah makmum atau pengikut. Jikalau ini adalah kesalahan atau dosa, maka mereka menganggap bahwa yang punya otoritas yang menentukan 1 Syawal inilah yang berdosa.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ???

Semoga saja puasa Ramadhan tahun ini mampu mencerahkan kita sehingga mampu menegakkan kalimatun sawa, mampu lebih menekankan pada persamaan daripada perbedaan. Aamiin. Allahumma shali 'ala Muhammad wa aali Muhammad.

Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,

Max Hendrian Sahuleka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  • SHARE